Profile Desa Wisata Hijau Bilebante

paket sepeda di Bilebante

Visi

Terwujudnya Desa Bilebante yang Bersih, Sehat, Indah, Aman, Sejahtera Terampil Dan Unggul (Bersinar Terang).

Misi

1. Menyelenggarakan tata kelola pemerintahan desa yang bersih, transparan, akuntabel serta efektif dan efisien.
2. Meningkatkan fasilitas kebersihan lingkungan dan berupaya meningkatkan jaminan kesehatan masyarakat melalui program pemerintah.
3. Mengoptimalkan pemberdayaan sumber daya manusia dan semua potensi dimasyarakat dalam bidang kepemudaan, pertanian, pariwisata dan peternakan      dll guna meningkatkan kesejahteraan warga.
4. Berupaya secara maksimal untuk membangkitkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
5. Membina Generasi muda melalui kegiatan keagamaan dan pelatihan sehingga menjadi generasi muda yang relegius, terampil, professional dan unggul.
6. Memperbanyak kegiatan pelatihan dan pendidikan di bidang keterampilan usaha sehingga mampu menciptakan masyarakat yang terampil dan lowong kerja sehingga mewujudkan keluarga yang unggul.
7. Meningkatkan promosi Desa Wisata Hijau Bilebante untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Desa Bilebante dan melanjutkan program-program Desa      Wisata Hijau Desa Bilebante serta melestarikan budaya dan tradisi masyarakat.
8. Melanjutkan program pemerintah pusat, daerah secara adil sesuai dengan petunjuk teknis.
9. Menjaga keamanan, kedamaian dan saling menghormati dan melindungi antar umat beragama.
10. Membangun infrakstruktur dalam semua bidang untuk meningkatkan kemudahan, dan upaya meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat.

Sejarah Desa Wisata Hijau Bilebante

  • Desa Bilebante berdiri sejak kurang lebih 100 tahun yang lalu dan terletak di Kec. Pringgarata Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat dengan luas 28.365 km2 dan dihuni oleh 4.264 Jiwa, dimana mayoritas penduduk berada pada usia produktif. 
  • Di Bilebante masyarakat Sasak hidup berdampingan dengan damai dengan masyarakat Hindu. Kedua budaya melebur dengan harmonis dan menjadi kebanggaan masyarakat desa.
  • Kata Bilebante merupakan istilah atau singkatan dari 2 kata yaitu Bile yang berarti buah maja (Bahasa Indonesia) dan Bante yang berarti semak belukar (Bahasa Sasak), sehingga artinya adalah pohon bile yang ditumbuhi/dililit semak belukar yang mengikat sangat kuat.
  • Bilebante memiliki filosofi dan nilai yang memperkuat masyarakat desa Bilebante sebagai wujud gotong royong dan simbol kekuatan bersatu dengan seluruh unsur masyarkat desa Bilebante.

Awal Mula Beralih Menjadi Desa Wisata

  • Dahulu masyarakat desa Bilebante hanya mengandalkan galian pasir sebagai sumber pendapatan.
  • Masyarakat desa kemudian beralih untuk mencari pendapatan, karena mereka sadar mengenai potensi buruk di masa depan.
  • Selain itu, isu sosial dan lingkungan lainnya adalah pernikahan dini, banyak pemuda-pemudi yang menjadi TKI karena mereka tidak melihat adanya potensi di desa mereka dan mereka juga tidak punya keterampilan untuk bekerja, dan masalah sampah.
  • Salah satu sektor yang potensial adalah sektor pariwisata, karena dampak ganda (multipler effect) yang dapat diciptakan untuk memberi manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan.
  • Bilebante memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata, karena alamnya yang indah dan SDM yang solid dan bersemangat untuk belajar dan bekerja.

Langkah Menuju Desa Wisata

  • Pada awalnya dilaksanakan program Pijar (sapi, jagung, dan rumput laut) untuk Kopwan Putri Rinjani yang diketuai Hj Zaenab, sehingga banyak orang yang melakukan studi banding untuk belajar membuat Tortilla dari jagung dan rumput laut. Dari sinilah muncul ide untuk menjadi desa wisata.
  • Pada tahun 2015 tepatnya tangga 4 April proyek kerja sama Pemerintah Indonesia dan Jerman yang diimplementasikan oleh Bappenas dan GIZ mendukung rencana desa Bilebante menjadi desa wisata. Akhir tahun 2015 dilaksanakan workshop dengan semua unsur masyarakat desa untuk Mensosialisasikan rencana pembangunan desa wisata dan Menyusun rencana  aksi berdasarkan rantai nilai pariwisata desa.
  • Perencanaan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan di desa Bilebante.
  • Desa Wisata Hijau Bilebante kemudian diresmikan pada tahun 2016 dengan dihadiri oleh Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, GIZ dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Pengelolaan

  • Pengelolaan desa wisata diatur dengan Peraturan Desa Wisata Hijau Bilebante No 03 tahun 2016 tentang Pengelolaan Desa Wisata Hijau Bilebante
  • Struktur organisasi disusun secara partisipatif, transparan dan bertanggung jawab.
  • Peran dari BUMDES dan Koperasi juga jelas dalam struktur organisasi.
  • Kelembagaan ini juga mencerminkan peran dari masyarakat desa sebagai pemilik dari kegiatan desa wisata sehingga manfaatnya harus semaksimal mungkin diterima oleh seluruh masyarakat.

 

Pengelola Desa Wisata Hijau:

  1. Pahrul Azim (Direktur Desa Wisata Hijau Bilebante)
  2. Abdul Halik (Ketua Pasar Pancingan)
  3. M. Tohri  (Ketua Kebon Herbal)
  4. Irmayanti (Ketua Terapis Kebugaran),
  5. Ikawati (Ketua Kuliner)
  6. M. Rizal Aidi (Ketua Sepeda/Pemandu)

Kerja Sama dengan Tour Operator

  • Kerja sama dengan tour operator nasional dan international untuk mengembangkan paket wisata dan akses untuk promosi dan pemasaran.
  • Jumlah kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara meningkat tajam, sehingga perekonomian lokal semakin bergairah.
  • Karena pandemi Covid-19 kegiatan pariwisata berhenti total sejak bulan Maret 2020. Baru belakangan ini wisatawan kembali berkunjung, apalagi setelah ada sertifikat CHSE dari Kemenparekraf

Meningkatkan Kualitas Produk UMKM

  • Sebelum menjadi desa wisata, Bilebante telah dikenal karena produk UMKMnya dengan bahan baku unggulan Lombok, seperti jagung dan rumput laut.
  • Bilebante merupakan sentra pelatihan UMKM pengolahan rumput laut nasional.
  • Sejak dikembangkan menjadi desa wisata, produk UMKM Bilebante semakin berkembang baik secara kuantitas maupun kualitasnya.
  • Selama pandemi Covid-19 dimana sektor pariwisata terkena dampaknya, terbukti produk UMKM Bilebante sangat menyokong perekonomian masyarakat desa, terutama dengan inovasi dan diversifikasi produk makanan dan minuman sehat, seperti jamu dan snack tanpa pengawet, perasa dan pewarna.

Dampak Inovasi & Improvement

1. Peningkatan Pendapatan

Pendapatan rata-rata dari kegiatan pariwisata adalah Rp 3 juta (sumber: Studi Multiplier Effect, November 2019, GIZ), sedangkan UMK Lombok Tengah pada tahun 2019 adalah Rp 2.021.000. Dengan demikian dapat dilihat adanya peningkatan yang signifikan karena pada bulan April 2019 60% responden evaluasi memiliki rata-rata pendapatan bulanan dari pekerjaan utama di bawah Rp1 juta (sumber: Baseline Study, April 2019, GIZ).

2. Penciptaan Lapangan Pekerjaan

Terciptanya lapangan kerja untuk anak muda dan perempuan, terutama Ibu Rumah Tangga, sehingga dengan demikian mencegah terjadinya urbanisasi dan mengurunkan niat untuk menjadi TKI.

3. Peningkatan Kapasitas

Lebih dari 400 orang berpartisipasi dalam berbagai pelatihan dimana 66% adalah anak muda di bawah usia 35 tahun dan 84% perempuan.

Dampak Inovasi & Improvement

1. Pembangunan Sarana Prasarana

  • Saung kebugaran pada tahun 2020 oleh Kemenparekraf
  • Pusat Pariwisata Kebugaran dengan DAK Pariwisata oleh Kemenparekraf

2. Publikasi (video, buku panduan, rencana induk)

Yang disusun bersama dengan para mitra perusahaan

3. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam even nasional dan menjadi narasumber

4. Menjadi Desa Wisata percontohan penerapan CHSE di NTB

Etika Berkunjung

1. Desa Bilebante terdiri dari dusun Muslim dan Hindu yang hidup harmonis, Tanyakan pada pemandu lokal mengenai kekayaan budaya setempat.

2. Berpakaian yang sesuai selama berwisata.

3. Menjaga kebersihan dengan tidak membuang samaph sembarangan selama berwisata.

4. Ikuti saran dan petunjuk petugas Wisata Hijau (DWH) Bilebante saat pengenalan dan pembekalan informasi sebelum berwisata.

5. Dukung perekonomian lokal dengan membeli produk makanan olahan dan kerajinan khas dari kelompok perempuan dan masyarakat desa.

6. Ambil sebanyak mungkin pengalaman selama berwisata di Desa Bileante dan bagikan kepada teman dan keluarga.

7. Menjaga dan melestarikan flora fauna di Desa Bileante terutama yang dilindungi (tidak menembak/memburu satwa, tidak menangkap ikan menggunakan       bahan kimia dan hanya boleh memancing dikolam ikan, serta tidak memetik/mencabut tanaman dengan sembarangan).

Penghargaan apa saja yang diperoleh Desa Wisata Hijau Bilebante bisa Cek selengkapnya di Menu Gallery Penghargaan

Download E-book Perjalanan Desa Bilebante Menuju Desa Wisata Hijau Berkelanjutan di sini!